DUHAI YANG TERCINTA

YA UHAILAL HUB - DUHAI YANGTERCINTA

eeeng... iiiing... eeeng.... masih ingat ini gak Langitan Mania ? yach, gara-gara booming Habib Syech dan Muqorrobin, jadi lupa dengan grup sholawat yg dulu nge-hits. ini lagu favorit sayah waktu SMP dulu.


Foto Jepretan Hadian Anam
Lagu ini pertama kali sayah dengar dari kaset-kaset yang dibawa kakak saya saat pulang mondok di ponpes Al-Fadlu kaliwungu. Saat dia pulang pasti bawa kaset baru. mulai Langitan jilid pertama sampai belum keluar lagunya dia sudah punya... wkwkwkwk... 

tahun itu masih berupa kaset tape pita hitam yg muter-muter itu. mau beli yg versi VCD belum punya playernya. ya sudah, tanpa harus menunggu punya itu barang untuk bersholawat ria, dengan kaset pun OK kn... 

tak puas cukup nyanyi-nyanyi di kamar dan heboh di kamar mandi, kita pun buat grup sholawat. namnya pun mirip-mirip dengan grup aslinya, Al-Muqtashida. oleh kakak sayah diberi nama Al-istifadah (kalo gak salah. he)

grup yang terdiri dari anak-anak kampung ingusan seperti saya, berjalan lancar. dengan alat musik seadanya seperti 1 set tamborin atau "terbang". kami latihan dan show dari rumah-rumah anggota grup awalnya. karena eksistensi kita terlihat bagus, beberapa tetangga yang suka sholawat dan suka berisik mempersilakan untuk main di kediamannya dengan jajanan (pacetan) seadanya. kadang ada yg nyuguh lontong, soto, dll. :D

Lagu-lagu yang kami dendangkan lambat laun bertambah seiring dengan perkembangan zaman ORLA, ORBA sampai Reformasi bin Demokrasi, :D sesuai dengan tren yang berkembang di dunia persholawatan dan jagad penerbangan.

NADA CINTA
Sudah cukup sejarah sayah bercinta dengan sholawat. Jadi dulu saat galau ya muternya lagu-lagu sholawat yang melankolis nan romantis. sampai hari ini laptop sayah 10 persen berisi nada-nada sholawat. Jadi kalau kangen suasana rumah sayah punya cara sendiri untuk membangun iklm seperti di rumah. tinggal setel kenceng lagu-lagunya Ahmad Yani, dkk serasa di rumah.

Nah, ini sayah kutipkan atau sayah copas kan satu terfavorit sayah. judulnya Ya Uhailal Hub artinya Duhai Yang Tercinta. sekilas judulnya satu genre dengan lagu pop Indonesia. artinya tak kalah makjleb dengan lagu-lagu CINTA band Indonesia. bedanya, lagu sholawat mempunyai kekuatan alam religi dan mahabbah kepada Nabi SAW.

Dengan melantunkan syair-syair bernada pujaan kepada Nabi, alam bawah  sadar kita akan terbiasa dengan mengingat sifat, akhlak dan kepribadian nabi. dan pada gilirannya bertujuan untuk mem-follow- tingkah dan tanduk nabi. 

UNTUK SI DIA
selain lagu cinta, banyak juga lagu renungan hidup, refleksi dan doa. lagu-lagu bernada sholawat hampir mempengaruhi psikologis sehari-hari (bagi yang memahami artinya). termasuk lagu CINTA ini. meski ditujukan kepada nabi, kadang sayah sedikit nakal dengan pujaan hati yang lain, gadis impian. Saat dimana cinta tumbuh di hati ini, lagu ini hadir memperingati dan menyemarakkan.

Lirik-lirik yang ditulis juga klop untuk memuji sang kekasih, dengan seluruh kelebihan yang dia punya. Meski tanpa tahu si dia tahu atau tidak, dibalas cintanya atau tidak. lagu ini menghibur hati yang tengah dimabuk cinta. Tentu, sayah tidak sembarangan mempersembahkan lagu ini kepada si dia pujaan hati. Setidaknya dia sholehah, sehingga jika kita berharap mencintainya, memilikinya akan menambah kecintaan kita kepada Rasul dan Allah.

Bukankah kita mencintai seseorang itu karena Allah SWT ? semoga dengan mendendangkan lagu ini bisa menambah kualitas KECINTAAN kita kepada Nabi SAW dan Allah SWT. amin (maaf kalau ada kata-kata yang kurang berkenan)


DUHAI YANG TERCINTA

Wahai orang-orang tercinta
Bedermalah kepadaku dengan cinta setiamu
Aku berkata, "Wahai para kekasih, kembalilah!!" 
Semua harapanku ada padamu
Engkau menumbuhkan hatiku
Dengan mengingatmu adalah obat bagiku
Kedatanganmu membutakan cinta hatiku
Kapan datangnya hari pertemuan itu
Kebahagiaanku saat aku bisa memandangmu
Berilah aku kesempatan untuk memandangmu wahai hamba yang mulia
Ketika kerelaanmu setia padaku
Hati jernih dan cinta pun membara
Tiada berarti bagiku kecuali cinta padamu
Jika engkau mau bertemu denganku
Aku kembalikan surat-suratku padamu
Jika engkau mau mengabulkan permohonanku

(Itulah harapanku)

yang belum pernah denger lagunya bisa di download disini

Politik dan Cinta Buta

Politik dan Cinta Buta


Dewasa ini orang-orang  terdekat kita bahkan mungkin semua orang tengah gandrung dengan dunia politik. Mereka rame-rame merapat ke masing-masing kubu untuk mendukung niat baik para kandidat untuk memperbaiki negeri ini dengan mencalonkan diri menjadi capres dan cawapres. Termasuk saya. :D

Fenomena dukung-mendukung ini kemudian menjadi bergeser lantaran kandidat yang didukung mendapat hadiah informasi negatif bahkan hitam. Karena berpotensi menurunkan elektabilitas sang kandidat akhirnya tidak mau itu terjadi si pendukung kembali balik menyerang. Terjadilah rebut-ribut perang informasi antar kedua kubu.

Hal inilah yang dalam dunia demokrasi menjadi tidak sehat. Para pendukung capres ini seakan berevolusi menjadi seperti fans selebriti, supporter sepakbola yang fanatic dan anarkis. Baik anarkis secara fikir maupun fisik. Fenomena ini bisa dilihat mulai dari sekedar sindir menyindir, joke gambar-gambar yang diplesetkan hingga makian. Bahkan di beberapa kampanye sudah menjurus ke anarkis. Saya tidak akan menyebut dari kubu mana yang sudah sampai anarkis, nanti dikira kampanye. Repot!

“Perlu kesadaran & tekad utk membangun kepercayaan publik bhw politik itu mulia, terhormat & tempat berkumpulnya org2 baik dan bersih.”@komar_hidayat

Selepas subuh tadi saya tertarik melihat Pak Andi Eswoyo yang merespon fenomena fanatic buta dengan begitu cerdas. Beliau memposisikan sebagai lawan dari orang fanatic buta. Posisinya sebagai akademisi adalah sangat tepat dan memang harus begitu bukan. Di status beliau saya iseng balas dengan dukungan, sedikit urun rembug bahwa posisi akademisi tak ubahnya seperti posisi ulama. Ulama yang harusnya bersifat netral dan mengayomi semua umat dan masyarakat.

Saya juga mengamini apa yang dikatakan Prof Qomarudiin Hidayat dalam jada twitternya, “Jendral itu mirip Ulama. Jangan terlibat kontestasi politik praktis. Anak buah bingung.” Akademisi juga mestinya begitu, tidak terlibat dalam hiruk piku politik praktis. Dia lebih berkepentingan kepada bagaimana membuat masyarakat agar tetap tercerahkan di tengah informasi tak jelas sumber dan kebenarannya.

CINTA BUTA
Jika virus fanatic sudah menjangkiti maka secepat itu akan menjalar. Analogi ini mirip dengan orang yang jatuh CINTA. Biasanya orang yang tengah dilanda asmara nalarnya akan buntu. Jika diberi nasehat cenderung tidak memperhatikan bahkan diabaikan. Hatinya sudah beku. Ada yang akhirnya pasrah dengan berujar, “percuma menasehati orang jatuh cinta”.

Ayo, yang pernah mengalami suasana batin itu, coba berkedip… ;)

Ya, semua mengalami, hanya kualitas dan kuantitasnya yang berbeda. Akhirnya banyak juga yang mengalami penyesalan, lantaran semula acuh dengan nasehat-nasehat bijak dari orang-orang terdekat.  Ketika orang mulai fanatic, maka hati sudah tertutup. Jika sudah begitu nalar dan piker sudah tidak sehat. Semua perbuatan sudah tidak dibangun atas dasar kebenaran hati, melainkan nafsu.

Dengan fanatic kita tidak bakal tahu apa motif sebenarnya atau ada kepentingan lain dibalik niat baiknya itu. Untuk pendapat ini, @komar-hidayat kembali menulis “Kekuasaan bisa jadi instrumen utk memperbaiki bangsa. Bisa juga utk melindungi kepentingan pribadinya.” Nah jika sudah terlanjur fanatic maka kita sulit untuk memilah mana yang benar, cenderung benar atau salah dan seterusnya.

Sampai hari ini saya sempat dikecewakan dengan sikap seorang tokoh idola yang akhirnya membela salah satu kubu. Awalnya saya menerima argumentasi beliau niat baiknya untuk berpihak. Saya juga telah menerima argumentasi serupa dan beberapa pertimbangan yang masuk nalar “politik”.

Namun beberapa pernyataan beliau di media kemudian, mulai jauh dari apa yang saya kenal dulu. Banyak komentar yang tidak lagi cerdas, sama seperti politisi-politisi kebanyakan. Saat itu runtuh kepercayaan saya dengan beliau.

Semoga masih menjumpai kebenaran pada diri beliau pada akhirnya, doa saya.

DILEMA
Fanatic buta, akhirnya semakin membuat pesta demokrasi semakin buram saja dan dunia politik pada umumnya. Di posisi ini masyarakat akan mengalami dilema. Mendukung dengan resiko terbawa arus fanatic buta atau netral dengan resiko akan dicap sebagai kaum apatis. Atau yang paling frontal ketika kecewa dengan dua kubu atau yang masih dan tambah benci dengan politik adalah GOLPUT!

“Perlu kesadaran & tekad utk membangun kepercayaan publik bhw politik itu mulia, terhormat & tempat berkumpulnya org2 baik dan bersih.” Tulis lagi @komar_hidayat kemarin, yang baru sempat sy RT pagi ini.

Akhirnya di tahun ini kita tetap harus belajar. Setidaknya belajar berpolitik dari sisi yang lain. KPU sudah memutuskan ada dua kandidat, dua pasang dan satu yang akan melenggang ke istana. Mari gunakan hak pilih kita.

“Terdpt pembelajaran politik dan komparasi bagaimana mendukung capres dg cerdas dan elegan atau sebaliknya.” @komar_hidayat.

Atau, jangan-jangan sejak jaman pitekantropus sampai jaman politikus, politik memang seperti ini ? :D semoga tidak!


@KOWIMisme


CINTA MATI, Dari Politik Hingga Romantik

CINTA MATI, Dari Politik Hingga Romantik

terlalu banyak menyimak status para pendukung yang sepertinya CINTA MATI dengan para capres. Beragam informasi seputar biografi, sepak terjang, track record masa lalu gembruduk tersaji di wall kita. seperti doa-doa yang terkabulkan begitu saja.

Jadi ingat lagu CINTA MATInya Agnes feat Ahmad Dhani yang ngehits banget. sayah dulu juga pernah punya kenangan dengan lagu ini. tahun 2006 kalo tidak salah, berarti benar. :D saat itu sayah dan teman-teman workshop ada dalam karantina pelatihan dan tes bengkel keterampilan di Semarang. semacam di asrama seminggu gituh...

saat mau berangkat, ada peristiwa unik bin nakal. waktu itu kami sekeluarga baru punya hp untuk pertama kali. merknya nokia tipe sliding. cukup eksklusif saat itu. tapi saat berangkat ke Semarang secara diam-diam aku bawa saja. padahal adikku sudah pesan jangan dibawa. hehehe..

sebagaimana pagi hari pertama di tempat konsentrasi itu, salah satu temanku yg romantis, sebut saja namanya Syarif biasa dipanggil Akbar Syarif. he kebalik ya... ngajak jalan-jalan keliling kompleks. Dalam rute-rute dan kelok-kelok gang sempit sayah tanya dia, lagu romantis untuk nembak cewek apa Rif? Syarif memang pinter main gitar dan lagu-lagu galau. dulu galau belum booming.

lalu, seperti halnya dukun, dia juga memberi mantra. mantranya lagu CINTA MATInya Agnes feat Ahmad Dhani. sejurus kemudian, di nyanyi dengan nada sekenanya, lha tanpa senjata, gitar. tapi cukup membius untuk ikut nyanyi. jadilah lagu itu lagu kenangan saat galau suka sama cewek.

sekarang nada-nadanya juga begitu... meski awalnya karena fenomena politik jadi kenangan romantik. nah, ni diye lagu dan liriknya. silakan dinikmati. siap-siap termehek-mehek ya... :D dijamin lagunya makjleb banget.

visualisasinya juga pas banget. lebih-lebih saat agnes melihat bayangan Dhani di cermin. seakan kedua sepasang kekasih itu tengah terpisah ruang dan waktu. yang tak kunjung temu. monggo dinikmati alakadarnya...

CINTA MATI




Bagaimana caranya untuk
Agar kau mengerti bahwa
Aku rindu

Bagaimana caranya untuk
Agar kau mengerti bahwa
Aku cinta

Masihkah mungkin hatimu berkenan
Menerima hatiku untukmu

Chorus:
Cintaku sedalam samudera
Setinggi langit di angkasa kepadamu
Cintaku sebesar dunia
Seluas jagad raya ini kepadamu
Kepadamu

Bagaimana caranya untuk
Agar kau mengerti bahwa
Aku rindu

Bagaimana caranya untuk
Agar kau mengerti bahwa
Aku cinta

Masihkah mungkin hatimu berkenan
Menerima hatiku untukmu

Chorus

Bagaimana caranya
Agar kau mengerti
Bahwa aku mencintaimu selamanya

Bagaimana caranya
Agar kau mengerti
Bahwa aku merindukanmu selamanya

Chorus

Perempuan Tidak Hanya Pengusir Bosan

Assalamu’alaikum masyarakat...
bismillahirrohmanirrohim


Alhamdulillah bisa kembali ngeblog lagi, gila-gilaan lagi. dan pada gilirannya bisa berbagi dan menginspirasi. semoga. ini karena ada seseorang yang akhir-akhir ini mengisi hari-hariku. :) semoga bisa istiqomah berkarya untuk umat dan bangsa. amin


Training Keprempuanan
Gara-gara diberi tugas menyecreening peserta pelatihan Latihan Khusus Kohati (LKK) HMI Cabang Pekalongan Kamis lalu untuk kategori materi makalah, sayah jadi kembali terpesona. Ghiroh para remaja putrid hmi itu sangat luar biasa. Screening dimulai selepas isya’, mundur dari jadwal yang semula di patok jam 16 sore. Dan sudah sayah duga. :D.

Kemunduran jadwal itu selain dibuat panitia juga karena permintaan saya sendiri. Sore itu saya silaturahmi ke Doro, mengunjungi rumah produksi batik yang cukup terkenal dan bersejarah, Batik Prasasti brandingnya. Bukan hanya sekedar dolan, saya mempunyai tujuan khusus untuk menawarkan atau promosi website yang say jual. Alhamdulillah goaaal… meski sampai sekarang belum closing. Semuga dipermudah jalannya. Amin
Kembali ke LKK tadi. Dialog yang terjadi dengan para peserta yang berasal dari mancaprovinsi itu membuahkan beragam cerita. Lebih tepatnya curhat. Ya, adek-adek kohati saat sayah screening lebih banyak curhat dari pada berargumen. Curhatnya seputar kelemahan mereka membuat makalah. (jangan su’udhon curhat macem-macem lhoh…)
Ekspresi semangat peserta Latihan Khusus Kohati HMI

Tidak ada peserta yang berani dengan pede mempertahankan isi dan karya makalahnya. Mereka cenderung mengakui kekurangan makalahnya setelah kemudian saya tunjukkan beberapa kesalahan yang mendasar. Akhirnya screening itu berjalan hambar, karena tak ada debat ataupun pembelaan argumentasi secuil pun.
Apakah ini semakin menegaskan bahwa perempuan itu lebih bodoh dari laki-laki?! Untuk training prestisius ini tidak dipersiapkan sebaik-baiknya? Ternyata tuduhan bodoh itu tak selamanya benar. Beberapa dari mereka mengaku tengah menempuh ujian akhir dan beberapa mendapatkan informasi yang terlambat. Bisa ditebak, makalah yang lahir ya, tak memuaskan, asal jadi. Selebihnya mereka mengaku jarang buat makalah dan beragam alasan lain yang kreatif-kreatif, lucu-lucu dan aneh-aneh. :D

Tapi energi yang saya keluarkan untuk menyecreening yang berharap ada peserta cakep yang pinter dan diskusi terobati dengan nongolnya buku-buku tentang perempuan. Tapi tak semua buku yang dibawa peserta itu bagus-bagus. Bagus menurut kaca mata sayah adalah buku-buku dengan persepsi sejarah, dinamika, pergolakan dan sejenas. Untuk buku semacam bagaimana menjadi perempuan baik, pandai menabung dan lainnya ada di nomor berikutnya.

Buku Sejarah Perempuan Indonesia
Beberapa diantaranya yang membuat mata saya sedikit melek di pukul 01 dini hari adalah buku yang dibawa oleh peserta dari Cabang Ciputat Jakarta. Buku cetakan baru itu berjudul  "Sejarah Perempuan Indonesia; Gerakan & Pencapaian) karya Cora Vreede-De Stuers (CVdS). 

CVdS telah mempelajari pergerakan Indonesia dg cara yg berbeda, ia merefleksikan hubungannya dg berbagai pergerakan perempuan, ideologi politik sezaman dan masalah2 penting untuk memahami Indonesia.

Buku yg recomended untuk dibaca perempuan, selain wawasan setidaknya perempuan akan merasa lebih bersyukur. Salah satu topic yang diangkat di buku itu adalah mengapa perjuangan perempuan saat itu pada perkawinan dan keluarga. Berbeda dengan kurun waktu pasca reformasi yang lebih menekankan pada aspek kesetaraan dan keterwakilan perempuan di sektor-sektor publik yang selama ini didominasi oleh kaum maskulin.

Anda akan menemukan jawabannya di buku hebat itu. Anehnya, buku keren itu ditulis bukan orang Indonesia dan ditulis dengan bahasa asing. Sesaat setelah sayah posting artikel itu beberapa kader ada yang merespon. Semoga tidak berhenti pada penasaran saja, tapi berlanjut dengan membeli dan membaca.
Buku berikutnya adalah buku karangan Ali Syariati berjudul Negara Perempuan, ini buku jadul banget sejadul-jadulnya. Namun belum sempat saya buka-buka sudah diserang kantuk. He…

Tak sekedar pengusir bosan
Mengkaji tentang perempuan memang asyik. Makhluk yang satu ini diciptakan oleh Allah tidak sekedar sebagai pengusir bosannya Nabi Adam saat di Surga. Kalau hanya itu, mengapa dulu Allah SWT tidak member adam hp symbian atau android saja ? hahahaha…

Sayah jengkel saat malam minggu temen saya menulis status demikian, “Adam saja dulu pernah bosan di surga.” Langsung sy balas, “ kesini saja”. Maksud saya disini adalah ke Gedung Pemuda. Karena saat itu sedang ada pertemuan BEM se Pekalongan yang juga banyak kaum hawa. Hehehehe..
Kebutuhan terhadap kehadiran perempuan untuk cerita Adam kemudian berlanjut pada persoalan hidup yang penuh perjuangan, tantangan, meneruskan generasi dan membangun peradaban. Awalnya memang terkesan hanya karena perkara “bosan”.

Naluri lelaki memang jika terserang rasa bosan adalah terlintas wajah-wajah perempuan pujaan hatinya. Selanjutnya akan berlanjut dengan aktivitas-aktivitas pribadi, entah ngirim sms, say hello dan beragam modus lain. Bagi yang malu-malu cukup memandangi foto di wallpaper gadgetnya. Sedang bagi yang memiliki ketakwaan tingkat tinggi  kan berucap istighfar, wudlu’ dan beragam ritual lainnya untuk mengusir setan dan mengendalikan hawa nafsunya.

Anda termasuk yang mana?

Suci seperti Sajadah
Salah satu peserta SUCI 4 dari NTT, Abdur pernah berseloroh, bahwa keberadaan prostisusi dolly dan lain-lain itu menurunkan harkat dan martabat perempuan . Karena pada dasarnya perempuan itu suci seperti sajadah, diatasnyalah suami beribadah. Wkwkwkwk… ada yang mau jadi sajadah saya??? Nanti gerakan sholat jadi sujuuuud aja… hihihihihi….

Sekian dulu tulisan acak-acakan untuk tahun ini, sudah banyak rumah laba-laba di blogku, sayah mau bersih-bersih dulu… siapa tahu ada kaum hawa yang mau jadi sajadah sayah… wkwkwkwk…

Wassalamu’alaikum… C U nek tem… ;)
Khusnul Kowim



Mendewasakan HMI

Mendewasakan Demokrasi
Inggrid Galuh Mustikawati ;  Peneliti Sistem Nasional
Pemantauan Kekerasan di The Habibie Center 
REPUBLIKA, 27 April 2013



Kedewasaan berdemokrasi kembali dipertanyakan oleh sejumlah kalangan ketika pesta demokrasi lagi-lagi dihiasi dengan kekerasan yang memakan korban jiwa. Belum lama ini insiden kekerasan yang terjadi di Kota Palopo, Sulawesi Selatan, menunjukkan serangkaian tindakan anarkis dan brutal. Biang pemicunya adalah pemilihan kepala daerah (pemilukada).

Ke depan, pada 2013 ini akan terselenggara 14 pemilukada di tingkat provinsi, dan 123 di tingkat kabupaten, dan 25 di tingkat kota berdasarkan jadwal pemilukada yang dirilis oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Ini berarti, akan ada potensi konflik ke depan yang mungkin terjadi jika serangkaian insiden serupa sebelumnya terulang kembali. 

Program Sistem Nasional Pemantauan Kekerasan (SNPK) pun memiliki catatan yang akurat terkait kekerasan akibat pemilukada dan dampaknya. SNPK merupakan sebuah terobosan dalam sistem informasi menyediakan data dan analisis tentang konflik dan kekerasan yang terjadi di Indonesia. 

Program SNPK yang dipimpin oleh Kemenkokesra dengan dukungan dari Bank Dunia dan The Habibie Center ini baru mencatat kekerasan pemilukada di sembilan provinsi yang dipantau. Data SNPK yang diunduh pada 8 April 2013 sepanjang 2005 sampai 2012 mencatat sebanyak 188 insiden kekerasan akibat pemilukada di tingkat provinsi yang meng akibatkan 11 tewas, 161 cedera, dan 74 bangunan rusak. 

Sepanjang 2005 sampai 2012, data SNPK juga mencatat sebesar 38 persen insiden kekerasan terkait pemilukada, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota terjadi di Provinsi Aceh dan 15 persen terjadi di Provinsi Maluku Utara, namun dampak tewas paling besar terjadi di Papua sebesar 79 persen.
Serangkaian insiden kekerasan yang sebagian besar terjadi dalam bentuk perusakan, penganiayaan, demonstrasi, dan bentrokan ini sebagai akibat dari ketidakpuasan salah satu pendukung calon kepala daerah atas proses dan hasil pelaksanaan pemilukada. 

Di samping itu, kekerasan yang terjadi sering kali dipicu oleh ketidakjelasan aturan main pemilukada sehingga kerap diinterpretasikan secara berbeda oleh para calon kepala daerah tersebut. Sejumlah praktik politik uang, ketidaknetralan media massa dalam pemberitaan dan kampanye gelap tim calon kepala daerah memperkeruh keadaan sehingga kekerasan sering kali tidak dapat terhindarkan. 

Cara penyelesaian atas ketidakpuasan tersebut pun kemudian beragam, mulai dari cara licik dan anarkis sampai dengan cara elegan melalui jalur hukum. Dalam Laporan Tahunan Mahkamah Konstitusi (MK) Tahun 2012, sebanyak 77 daerah melaksanakan pemilukada, yakni enam provinsi, 53 kabupaten, dan 18 kota. Data MK mencatat sebanyak 77 persen pemilukada yang disengketakan ke MK ini berasal dari empat provinsi, 43 kabupaten, dan 12 kota. 

Berbagai pihak pun mulai mengedepankan wacana untuk mengevaluasi pelaksanaan pemilukada khususnya di tingkat kabupaten dan kota mengingat kekerasan akibat pemilukada pada level tersebut lebih sering terjadi. Salah satunya adalah dukungan penuh dari Kementerian Pertahanan agar segera di lakukan evaluasi terhadap sistem pemilukada. 

Di samping itu, mekanisme sistem keamanan setiap daerah sebenarnya telah digariskan dalam Inpres No 2/2013 tentang Keamanan dan Ketertiban Dalam Negeri yang baru-baru ini dikeluarkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Gubernur sebagai pemegang pemerintahan daerah tertinggi yang ber- tanggung jawab atas keamanan di wi layahnya. 

Meskipun dinodai dengan kekerasan, penyelenggaraan pemilukada menjadi momentum bersejarah yang menandakan langkah maju dalam berdemokrasi. Tidak hanya di tangan pemerintah, penyelesaian permasalahan kekerasan yang mewarnai proses pemilukada di setiap tingkatan sepatutnya menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi partai politik peserta pemilihan umum.

Idealnya, partai politik memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan pendidikan politik bagi para anggota dan simpatisannya, sehingga tidak hanya mengedepankan kepentingan elite. Kedewasaan berdemokrasi hanya akan didapat dari proses edukasi secara terus-menerus.

Di sisi lain, menjadi tantangan besar pula bagi aparat penegak hukum bahwa serangkaian aksi kekerasan dalam proses pemilukada perlu ditindaklanjuti dengan penegakan hukum yang seadil-adilnya sehingga dapat meminimalisasi tindak kekerasan lanjutan. Pelaku kekerasan harus dihukum secara tegas sehingga dapat menimbulkan efek jera bagi pelaku kekerasan. 

Terakhir, peran pemangku kebijakan sepertinya perlu mempertimbangkan kembali dan mengevaluasi peraturan dan tata cara pelaksanaan pemilukada dengan mem buat aturan yang jelas dan transparan sehingga dapat menghindarkan terjadinya multitafsir. Jika setiap proses dilakukan sesuai dengan prosedur yang ketat dan trans paran, diikuti dengan netralitas penyelenggara pemilukada di daerah yang tidak berpihak, serta adanya tim pengawas yang independen, penghapusan pemilukada di tingkat kabupaten dan kota sebagaimana direncanakan oleh Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi menjadi suatu hal yang tidak urgen untuk dilakukan.

Penghapusan mekanisme pesta demokrasi di tingkat kabupaten dan kota yang berdasarkan catatan SNPK memiliki insiden kekerasan yang lebih banyak jika dibandingkan dengan pemilukada di tingkat provinsi, menjadi suatu hal yang tidak perlu dilakukan oleh pemerintah. Sistem pemilihan baik secara langsung maupun tidak langsung masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan sendiri. 

Namun, semangat demokrasi terletak pada keterlibatan masyarakat secara langsung dalam proses demokrasi yang sedang dibangun. Untuk itu, pendidikan politiklah yang seharusnya me nyertai proses demokrasi sehingga masyarakat memiliki kedewasaan dalam berdemokrasi. Dengan demikian, bukan sistem pemilihan yang diganti, namun perbaikan tata cara pemilukada, pendidikan politik yang berkesinambungan, serta penegakan hukum menjadi faktor-faktor yang harus lebih diutamakan untuk diselesaikan oleh pemerintah. 

HMI dan Produksi Politisi



HMI dan Produksi Politisi
Mohammad Nasih ;  Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan 
FISIP UMJ, Wakil Rektor STEBANK Islam Mr Sjafruddin Prawiranegara
SINDO, 05 Februari 2013
 

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang berulang tahun hari ini merupakan organisasi kemahasiswaan yang telah melahirkan banyak politisi.Dibandingkan dengan organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan yang lain, bisa dipastikan bahwa HMI-lah yang paling banyak berkontribusi dalam menyediakan kader politisi. 

Namun, ini bukan berarti bahwa jumlah kader HMI yang kemudian menjalani karier sebagai politisi paling banyak. Dalam lini-lini kehidupan selain politik, sangat mudah ditemukan kader-kader HMI,terutama dalam birokrasi kampus, birokrasi pemerintahan, pengurus ormas, aktivis LSM, wirausaha,bahkan militer. Karena jumlah kader politisi yang sangat banyak, alumni HMI berdiaspora ke seluruh partai politik yang ada di Indonesia.

Perbedaan pilihan dalam melakukan afiliasi politik bagi kalangan kader HMI sudah dianggap sebagai sesuatu yang sangat biasa. Dalam perbedaan itu, para alumni HMI bisa berkumpul dengan penuh kehangatan laiknya satu keluarga yang dinamis.Sama sekali tidak ada fanatisme dan sinisme karena perbedaan pilihan afiliasi politik. Karena itu, alumni HMI ada di semua partai politik, baik yang berdasar formal Islam, nasionalisme, maupun yang lainnya, kecuali yang secara jelas dan tegas menjadikan agama non-Islam sebagai dasar formal pendirian atau ideologi.

Dalam menjalani aktivitas politik, alumni HMI terbilang sangat menonjol dan tidak sedikit yang menjadi pemimpin puncak partai politik, terutama di era pasca-Reformasi. Tidak hanya di level nasional, tetapi juga di level provinsi dan kabupaten/kota.Alumni HMI yang sangat menonjol dalam politik biasanya karena memiliki dua keunggulan sekaligus yaitu keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif.

Dua keunggulan yang ada pada kader HMI itulah yang menyebabkan HMI menjadi kawah candradimuka— untuk tidak menyebutnya industri— politisi yang tidak pernah kekurangan stok. Keunggulan komparatif dimiliki karena HMI merupakan organisasi kemahasiswaan tertua dan terbesar sehingga potensi untuk memiliki kaderkader dengan kapasitas yang lebih baik juga lebih besar.Di antara sekian banyak kader yang terjaring oleh organisasi HMI,terdapat bibit-bibit kader yang sangat potensial.

Mereka itulah yang memiliki kapasitas akademik di bidang-bidang tertentu yang mereka geluti. Secara kuantitatif, ini terbukti dengan prestasi akademik di kampus dengan menjadi mahasiswa- mahasiswa terbaik. Mereka yang memiliki keunggulan ini biasanya sangat mudah untuk melanjutkan karier sebagai pengajar di perguruan tinggi, baik tempat mereka belajar atau perguruan tinggi yang lain. Sedangkan keunggulan kompetitif dimiliki oleh kader-kader HMI karena mereka berada pada budaya organisasi yang egaliter.

Dalam budaya egaliter tersebut, para kader HMI bisa bersaing secara bebas untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin organisasi. Tradisi ini menjadikan kader-kader HMI mengalami tempaan keras, terutama secara mental, karena harus mengalami tekanan dan tantangan berat dalam menjalani proses kompetisi.

Kebiasaan dalam suasana persaingan ketat inilah yang membuat kaderkader HMI memiliki kesiapan untuk menjalani dunia politik yang memang bisa dikatakan tidak pernah sepi dari kompetisi untuk memperebutkan posisi-posisi politik yang dianggap strategis.Tentu saja tujuan idealnya adalah agar bisa menjadikan posisi-posisi tersebut sebagai sarana untuk mewujudkan kebaikan bersama.

Sinergi Positif 

Dalam konteks struktur kenegaraan demokratis di Indonesia saat ini, banyak alumni HMI yang berada pada tiga poros kekuasaan (trias politica): legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Karena jumlah mereka yang berada dalam partai politik terbilang sangat banyak, dengan modal dua keunggulan yang mendukung, peluang mereka terpilih dalam pemilu juga menjadi besar.

Secara empiris, itu tampak dalam banyaknya alumni HMI yang terpilih menjadi anggota legislatif, baik di level nasional maupun daerah. Tidak ada fraksi yang sama sekali nihil dari alumni HMI. Demikian juga dalam struktur eksekutif dan yudikatif. Sejak era Orde Baru, struktur kabinet juga cukup dominan dengan kader HMI,baik karena pertimbangan politik, profesionalisme, atau bahkan kedua-duanya.

Keberadaan mereka yang lintas partai dan lintas poros tersebut memungkinkan mereka membangun jaringan.Karena itulah pernah muncul istilah “HMI connection”. Para alumni HMI tetap mampu menjalin komunikasi yang sangat intensif. Walaupun dalam konteks-konteks tertentu mereka terlibat konflik yang sangat sengit, tetapi dalam konteks-konteks yang lain mereka mampu bersinergi dengan sangat baik.

Komunikasi antaralumni HMI menjadi sarana yang sangat efektif untuk mengusung agenda-agenda politik tertentu. Tentu saja komunikasi ini menjadi sarana yang terbilang netral. Dengan kata lain, komunikasi ini bisa dimanfaatkan untuk melakukan sinergi untuk menghasilkan sesuatu yang positif, tetapi tak jarang juga komunikasi ini menghasilkan sesuatu yang negatif dan berakibat destruktif. Tidak sedikit alumni HMI yang berurusan dengan aparat penegak hukum karena diduga dan ada juga yang telah divonis hukuman akibat melakukan tindakan penyelewengan kekuasaan.

Namun, menilai bahwa mayoritas alumni HMI adalah amoral juga tidak fair karena terlalu banyak alumni HMI yang menjalani aktivitas politik dan bertahan dengan idealisme sebagaimana tujuan HMI yakni: “Terbinanya insan akademis, pencipta,pengabdi,yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridai Allah SWT”.Di samping itu, lebih banyak lagi alumni HMI yang menjalani karier di luar dunia politik.

Akhirnya HMI sebagai kawah candradimuka yang selalu melahirkan kader politisi sangatlah penting. Politiklah yang bisa memengaruhi secara dominan perubahan negara dan masyarakat. Jika politik diisi oleh orang-orang yang baik, negara dan masyarakat akan baik. Namun, jika didominasi oleh mereka yang jahat, negara dan masyarakat juga akan rusak.

Karena itu, HMI memiliki tanggung jawab besar untuk melakukan kaderisasi yang bisa melahirkan politisi yang baik agar diaspora politik alumni HMI menghasilkan sinergi dalam membangun dan mengembangkan idealitas sebagai kader umat dan bangsa guna mewujudkan baldatun thayyibatun (negeri yang baik). Sinergi dengan orientasi itulah yang akan membuat HMI senantiasa mendatangkan keberkahan sehingga tetap menjadi harapan masyarakat Indonesia. Wallahu a’lam bi alshawab. ●


http://budisansblog.blogspot.com/2013/02/hmi-dan-produksi-politisi.html